Posted by: FAJAR MAULANA | 29th Oct, 2010

PENYIAPAN MEDIUM DAN STERILISASI BAHAN DAN PERALATAN

Laporan Praktikum ke-3                                 Hari/Tanggal   : Rabu/ 03-02-2010

m.k. Dasar-dasar Mikrobiologi Akuatik         Kelompok       : V (Lima)

Asisten            : Syahrul Alim

PENYIAPAN MEDIUM DAN STERILISASI BAHAN DAN PERALATAN

Disusun oleh :

Fajar Maulana

C14080081

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010
I.   PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mikrobiologi ialah ilmu yang mempelajari mengenai organisme hidup yang berukuran mikroskopis (Pelczar & Chan 1986). Organisme ini (mikroba) dapat hidup pada media atau lingkungan yang memungkinkan atau memenuhi prasyarat untuk hidup dan berkembang sesuai dengan jenis dan kebutuhan organisme tersebut. Dalam ilmu kehidupan manusia maupun organisme lainnya, umumnya dikenal bakteri maupun virus yang merupakan bentuk dari mikro organisme, maka dari itu perlulah kita mempelajari mikro organisme ini dengan terlebih dahulu mempersiapkan lingkungan dan kebutuhan daripada mikro organisme tersebut, khususnya biakan murni mikro organisme.

Untuk menumbuhkan biakan murni yang aseptik dibutuhkan peralatan dan bahan yang steril, atau dengan kata lain tidak mengandung mikroba yang tidak diinginkan. Untuk itulah kegiatan praktikum ini dilaksanakan agar menumbuhkan keterampilan dan kemampuan bekerja secara aseptik.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari prosedur umum untuk merekonstruksi (mengembalikan kepada keadaan asalnya) medium berbentuk bubuk (terhidrasi) dan menaruhnya dalam jumlah yang dikehendaki ke dalam wadah-wadah  yang sesuai dan mempelajari berbagai macam prosedur sterilisasi bahan dan peralatan.


  1. II. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Penyiapan Medium dan Sterilisasi Bahan dan Peralatan ini dilaksanakan pada hari Rabu 24 Februari 2010 pukul 07.00-10.00 WIB dan pengamatan pada hari Kamis 25 Februari 2008 pukul 10.30 WIB, bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

2.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah gelas ukur, Elenmeyer, timbangan digital, kertas timbang, sendok, batang pengaduk, pemanas air, pH meter, tabung reaksi, cawan petri steril, kapas sumbat, sprayer, pipet volumetrik, keranjang tabung reaksi, tissu, kertas bekas, keranjang tabung, pipet serologi, dan autoklaf. Sedangkan bahan yang digunakan ialah medium NA, air, kertas bekas, plastik pembungkus, alkohol, dan akuadest.

2.3 Prosedur Kerja

2.3.1 Proses Pembuatan NA

Kegiatan pembuatan media NA diawali dengan disiapkannya alat dan bahan yang diperlukan, setelah semuanya terpenuhi barulah pengerjaan dapat dilakukan dengan langkah-langkah yang benar. Pertama-tama botol atau wadah media NA diambil untuk kemudian keterangan dan intruksional penggunaan dibaca dan dijalakan, dalam keterangan ditulis perbandingan gram bahan untuk membuat media sebanyak 1000 ml, untuk itu metoda perbandingan digunakan untuk didapatnya bobot bahan yang akan digunakan.

NA yang digunakan ialah sebesar 8,0 gram untuk diencerkan kedalam 100 ml larutan Akuadest. Setelah bahan diambil langkah selanjutnya ialah bahan disimpan dalam alumunium foil untuk ditimbang dalam timbangan digital, setelah itu bahan dimasukkan kedalam elenmeyer yang berukurran lebih besar dari larutan yang akan dibuat, contohnya elenmeyer 250 ml, agar bahan yang akan digunakan tidak bersisa maka bahan dibilas dengan akuadest kedalam elenmeyer.

Setelah itu larutan bahan dipanaskan didalam penangas hingga larutan homogen kira-kira selama 15 menit. Medium yang telah matang lalu di sterilisasi di dalam autoklaf agar medium bersifat aseptik. Setelah siap lalu bahan dituang kedalam tabung reaksi masing-masing sebanyak 12 ml untuk media cawan petri dan 5 ml untuk media agar miring. Setelah itu tabung reaksi disumbat dengan kapas, dan untuk menjagana tetap cair maka taruh di dalam penangas air.

2.3.2 Proses Pemindahan Media NA ke Cawan Petri

Gambar 1. Langkah-langkah pemindahan media NA kedalam cawan petri.

Kegiatan pemindahan media NA kedalam cawan petri haruslah dilakukan dengan steril, agar media yang didapat bersifat aseptik, pemindahan media harus selaku dilakukan dibelakang bunsen api yang terbakar, fungsinya adalah agar media tidak terpengaruh dan tetap steril.

Pertama-tama bunsen dinyalakan, lalu cawan petri diambil dan diletakkan di tangan sebelah kiri dengan pegangan yang senyaman mungkin bagi praktikan, tabung reaksi berisi 12 ml media diambil dengan tangan kanan, lalu kapas penutup tabung perlahan didekatkan dengan api sembari diputar, dan begitu pula dengan cawan petri, selanjutnya kapas dijepitkan pada jari kelingking untuk dilepaskan dan media dimasukkan kedalam cawan petri, pembukaan cawan petri tidak boleh terlalu lebar, dan pemindahan media harus dilakukan dengan cepat tanpa menimbulkan gelembung pada cawan, selanjutnya cawan dibakar untuk memastikan media tetap steril.

2.3.3 Proses Pembungkusan Cawan Petri dan Pipet

Gambar 2. Langkah-langkah sterilisasi cawan petri.

Cawan petri yang akan disterilkan terlebih dahulu dibungkus dengan kertas A4 bekas, pertama-tama cawan petri diletakkan dengan posisi terbalik di atas kertas, lalu ujung kertas dipertemukan untuk selanjutnya dilipat menjadi dua bagian yang sama hingga menutupi seluruh cawan petri, ujung kertas selanjutnya dilipat hingga menyerupai segitiga dan kemudian ditekuk ke arah bawah cawan petri dan lakukan pula pada sisi lainnyasetelah dirasa rapih maka cawan petri siap dimasukkan ke dalam autoclaf untuk melalui tahap sterilisasi.

Gambar 3. Langkah-langkah sterilisasi pipet.

Pipet yang akan disterilisasi terlebih dahulu dibungkus dengan kertas A4 bekas yang sebelumnya telah dibagi menjadi empat bagian yang sama panjang. Pertama-tama ujung kertas dilipat menjadi segitiga siku-siku, lalu ujung pipet dimasukkan ke dalam segitiga tersebut selanjutnya kertas diputar ke arah badan pipet hingga menutupi seluruh pipet, pembungkusan dapat dilakukan dengan kertas yang bersambung andaikan kertas tidak mencukupi, selanjutnya pipet yang telah tertutup rapat dimasukkan ke dalam autoklaf untuk disterilisasi.

2.3.4 Proses Pembuatan Agar Miring

Agar miring dibuat dengan cara mengambil tabung reaksi yang berisi 5 ml medium dan selanjutnya tabung reaksi direbahkan diatas rak miring atau pipet yang ditidurkan. Sudut kemiringan dapat ditentukan dengan melihat medium yang tepat habis pada dasar tabung reaksi.


  1. III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 1 Hasil Pengamatan

Keterangan :    +++ (sangat banyak)

++    (banyak)

+       (sedikit)

-        (tidak ada)

3.2 Pembahasan

Medium ialah bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di atas atau di dalamnya. Dalam pembuatan medium untuk keperluan biakan mikroorganisme dibutuhkanlah media yang memenuhi kebutukan-kebutuhan mikroorganisme untuk tetap hidup dan berkembang seperti air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh. Berdasarkan jenis dan konsistensinya, kita mengenal dua bentuk medium dalam penumbuhan mokroorganisme yaitu medium padat dan medium cair(Dwidjoseputro 1998).  Dalam praktikum kali ini kita membuat medium dalam bentuk padat, yaitu medium NA (Nitrogen Agar) yang memiliki unsur Nitrogen. Fungsinya yaitu untuk menumbuhkan bakteri yang terdapat pada air tawar dalam media agar.

Sterilisasi merupakan upaya untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Pembuatan medium seharusnya dilakukan dengan aseptik atau dengan tahap sterilisasi, agar medium yang dihasilkan tidak terdapat kontaminan didalamnya yang dapat mengganggu pembiakan atau biakan mokroorganisme untuk tumbuh dan berkembang dalam media.

Pada percobaan yang dilakukan didapat bahwa hanya terdapat satu dari tujuh buah cawan yang terkotaminan, yaitu milik Fajar, tearlihat bahwa terdapat tanda-tanda kehidupan bakteri yaitu bintik putih, dan juga bau yang tidak sedap pada media biakan. Kontaminan adalah terdapatnya mikroorganisme yang tidak diinginkan yang masuk dalam medium yang telah dibuat (Dwidjoseputro 1998). Hal yang menunjukkan bahwa cara kerja yang dilakukan tidak aseptik.

Kejadian kontaminan ini terjadi kemingkinan dikarenakan praktikan yang tidak sengaja berbicara ketika menuang, ataupun alat-alat yang digunakan sudah terkontaminasi sebelumnya baik oleh udara luar, sentuhan tangan, seharusnya dalam pembuatan medium didaapatmedia yang tidak kontaminan yang menandakan bahwa pekerjaannya berhasil dan baik.

Pembuatan agar miring bertujuan untuk menyiapkan medium dengan luas penampang yang lebih luas, sehingga proses penggoresan dapat berjalan dengan baik. Medium agar juga dapat memudahkan kita untuk mendapatkan galur murni karena panjangnya goresan yang dilakukan dengan zig-zag.

  1. IV. KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

Medium NA merupakan medium agar yang dapat kila gunakan dalam media cawan petri maupun agar miring. Medium ini dapat bertahan dalam kondisi cair di atas suhu 430C, sehingga pada suhu dibawahnya ia akan cendrung bersifat padat. Pemindahan medium ini kepada medium biakan haruslah dilakukan dengan cara yang benar supaya tidak terjadi kontaminasi organism didalamnya. Medium ini dapat kita simpan dan kita gunakan sewaktu-waktu dengan cara penyimpanan dan metoda yang benar.

4.2 Saran

Dalam pengerjaannya sering kali mahasiswa melakukan praktikum dengan kurang teliti, sehingga terdapat kegagalan dalam praktikum. Untuk kedepannya duharapkan praktikan bekerja dengan tekun dan lebih serius.


DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro D. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.

Pelczar MJJr, Chan ECS. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Volume 1. Hadioetomo RS, Imas T, Tjitrosomo SS, Angka SL, penerjemah; Jakarta: UI-Press. Terjemahan dari: Elements of Microbiology.

Posted by: FAJAR MAULANA | 29th Oct, 2010

TEKNIK PEMINDAHAN BIAKAN MIKROBA SECARA ASEPTIK

Laporan Praktikum ke-4                                 Hari/Tanggal   : Rabu/ 10-03-2010

m.k. Dasar-dasar Mikrobiologi Akuatik         Kelompok       : 5(Lima)

Asisten            : Agus

TEKNIK PEMINDAHAN BIAKAN MIKROBA SECARA ASEPTIK

Fajar Maulana

C14080081

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


  1. I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mikroba, atau yang kita kena dalam bentuk bakteri sangatlah banyak terdapat di sekitar kita, pada lengan kita saja lebih dari ribuan bahkan jutaan bakteri dan virus dapat hidup dan sangat mempengaruhi kesehatan manisia. Populasi yang amat banyak inilah yang harus kita tekan dalam upaya pembuatan biakan murni, metoda teknik aseptic umumnya harus dimiliki bagi setiap praktikan yang melakukan pekerjaan dengan mikroorganisme sehingga perlindungan diri dari bakteri yang berbahaya bagi tubuh serta menghindari tercemarnya lingkungan di sekitar Laboratorium(Waluyo, 2004).

Mikroba yang tidak dikehendaki tersebut dapat masuk dan mengkontaminasi melalui kontak langsung pada permukaan atau tangan yang tercemar sebelumnya, tersentuhnya media atau permukaan tabung bagian dalam oleh benda yang belum disterilkan maupun kontak langsung dengan aliran udara bebas.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan agar Mahasiswa dapat menguasai teknik pemindahan biakan murni dari satu wadah ke wadah yang lain secara aseptik.


  1. II. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Teknik Pemindahan Biakan Mikroba Secara Aseptik ini dilaksanakan pada hari Rabu 3 Maret 2010 pukul 07.00-10.00 WIB dan pengamatan pada hari Kamis 4 MAret 2010 pukul 10.30 WIB, bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

2.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi korek api, sprayer, bunsen, rak tabung reaksi, tabung reaksi, lup inokulasi, kapas sebagai sumbat, dan inkubator. Bahan-bahan yang digunakan berupa alkohol 70%, media SWC (Sea Water Complete), media TSB (Triptic Soy Broth), dan biakan murni bakteri Pseudoalteromonas sp.

2.3 Prosedur Kerja

Lup inokulasi, bunsen, korok api, sprayer yng berisi alkohol  disiapkan. Sebelum melakukan percobaan yang sesungguhnya,  dua tabung reaksi kosong digunakan sebagai latihan untuk percobaan sebenarnya. Dua tabung kosong tersebut dianggap berisi medium steril dan satu lagi berisi biakan murni.

Kedua tabung dipegang dengan tangan kiri dan lup inokulasi di tangan kanan. Lup inokulasi dipanaskan di atas pembakar bunsen sampai seluruh kawat berpijar. Lup tersebut digerakkan dengan cepat ke arah bawah di atas api supaya ikut terpanasi. Lup dibiarkan dingin sekitar 30 detik sebelum dipakai. Sumbat tabung tersebut diangkat satu demi satu, dimulai dengan sumbat tabung yang terdekat dengan tangan kanan dengan jari kelingking dilingkarkan pada sumbat. Sumbat tabung satu diangkat dengan jari manis dengan gerakan yang sama, tidak dari arah belakang tabung tetapi dari antara kedua tabung. Kedua mulut tabung dipanaskan dengan dibolak-balik di atas api sebanyak dua kali di atas api. Sudut kemiringan tabung dijaga agar tidak melebihi 45o bila tidak bersumbat. Lup dimasukkan ke dalam salah satu tabung seakan-akan satu lup penuh biakan dipindahkan untuk dimasukkan dalam tabung lain. Mulut kedua tabung tersebut dipanaskan kembali. Masing-masing sumbat tabung dikembalikan seperti sediakala, sumbat tabung yang terdekat dengan tangan kanan sebaiknya dikembalikan terlebih dahulu. Lup inokulasi dipijarkan kembali sebelum diletakkan kembali ditempatnya.

Pemindahan aseptik ini diulangi pada percobaan yang sesungguhnya menggunakan dua tabung TSB dan diulangi juga untuk pemindahan sejumlah kecil bakteri isolat Pseudoalteromonas ke dalam tabung berisikan agar miring SWC steril. Cara inokulasi pada agar miring, lup yang mengandung biakan diletakkan pada dasar kemiringan agar lalu ditarik ke atas dengan gerakan zig-zag. Tabung dan lup inokulasi dikembalikan. Semua tabung yang telah diinokulasi diberi tanda dan diletakkan pada tempat yang telah disediakan untuk diinkubasi pada suhu 280C-290C  selama 24 jam.

Kegiatan pengamatan dilakukan sehari setelah praktikum. Keberhasilan praktikum dapat dilihat dari kejernihan tabung-tabung TSB dan pada tabung SWC hanya terdapat koloni berwarna merah dan seragam.


  1. III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 1. Hasil pemindahan biakan mikroba secara aseptik pada media TSB

Keterangan :

++++         : sangat banyak kontaminan

+++          : banyak kontaminan

─            : tidak terdapat kontaminan

Interpretasi :

Dari tabel di atas, didapat bahwa tidak terjadi kontaminan pada pemindahan lup inokulasi dari tabung a ke tabung b yang berisi media TSB. Dengan demikian pemindahan bakteri berjalan dengan cara aseptic.

Tabel 2 Hasil pemindahan biakan mikroba secara aseptik pada media SWC

Keterangan :

++++         : sangat banyak kontaminan

+++          : banyak kontaminan

─                        : tidak Terdapaat kontaminan

Interpretasi :

Dari tabel di atas, didapat bahwa bakteri yang berkembang berwarna oranye seperti biakan murni yang dipindahkan, hal ini menunnjukkan bahwa pemindahan bakteri pada setiap tabung berjalan denga cara aseptil.

3.2 Pembahasan

Dalam praktikum kali ini kita menggunakan dua tipe media kultur mikroba, yaitu berupa media padat dengan menggunakan media SWC dan media cair dengan menggunakan media TSB. Media padat mengandung agar atau gelatin, sedangkan media cair tidak mengandung agar (Dwidjoseputro 1998).

Perbedaan dari médium yang digunakan terletak pada komposisi kandungan, bentuk atau kestabilan dan jenis mikroba yang akan ditumbuhkan di dalam suatu médium tersebut. SWC (Sea Water Complete) merupakan salah satu bentuk medium agar yang berfungsi menumbuhkan bakteri atau cendawan air laut yang memiliki Komposisi meliputi bacto pepton, yeast ekstrak, gliserol bacto agar, air laut, dan akuades. Sedangkan TSB (Triptic Soy Broth) merupakan media tumbuh mikroba yang berwujud cair dengan bahan yang terkandung di dalamnya adalah pancreatic digest of casein, Enzimatic digest of soy bean meal, dectrose sodium chloride, dan dipotasium phospat. Masing-masing bahan tersebut memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan media tumbuh bakteri.

Teknik aseptik sangatlah diperlukan guna menghindarkan  kontaminan berupa mikroorganisme lainnya yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba biakan dan menjadi pesaing dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi biakan murni (Pelczar,1986). Teknik aseptik haruslah  digunakan sepanjang kegiatan berlangsung baik terhadap alat, bahan, lingkungan sekitar maupun praktikannya. Penguasaan teknik aseptik ini sangat diperlukan dalam keberhasilan laboratorium mikrobiologi dan hal tersebut merupakan salah satu metode permulaan yang dipelajari oleh ahli mikrobiologi. Selain guna mencegah kontaminan masuk, teknik aseptik juga berguna bagi perlindungan diri dari bakteri yang berbahaya bagi tubuh serta menghindari tercemarnya lingkungan di sekitar Laboratorium.

Dari hasil dan data yang didapat, tercermin bahwa teknik aseptik yang dilakukan berjalan dan dapat dikatakan berhasil, karena tidak terjadi kontaminan pada perobaan yang dilakukan. Hal ini dibuktikan oleh tidak tumbuhnya mikroba pada media TSB tang dipindahkan dari satu tabung ke tabung yang lain, dan juga goresan yang dibuat pada media SWC berwarna oranye sesuai dengan biakan murni yang tumbuh pada media biakan murni. Jika terjadi kontaminan pada media maka yang terjadi adalah terbentuknya kabut putih pada media TSB yang mencerminkan adanya mikroba lain yang tumbuh, dan adanya bercak dengan warna yang lain yang tumbuh pada medium SWC.

Bakteri yang kita tumbuhkan berupa bakteri Pseudoalteromonas sp yang berwarna oranye pada medium tumbuhnya, berhabitat di perairan air laut.


  1. IV. KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

Teknik aseptik haruslah dikuasai oleh setiap praktikan khususnya dalam pengerjaan dengan menggunakan biakan murni, hal ini dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya kontaminan pada biakan baik melalui tangan praktikan, alat yang tidak steril maupun udara luar yang membawa bakteri yang dapat menghambat kinerja bakteri biakan yang seharusnya tumbuh. Dengan demikian, hal terpenting yang harus dikuasai praktikan ialah teknik asepti dalam setiap pengerjaan pada laboratorium.

4.2 Saran

Setiap praktikan yang akan melakukan praktikum dengan mikroba haruslah melatih teknik asptik dengan benar terlebih dahulu dikarenakan guna menjaga kesehatan dan juga lingkungan dari pencemaran dari mikroba yang merugikan.


DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro D. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.

Pelczar MJJr, Chan ECS. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Volume 1. Hadioetomo RS, Imas T, Tjitrosomo SS, Angka SL, penerjemah; Jakarta: UI-Press. Terjemahan dari: Elements of Microbiology.

Waluyo, Lud. Drs. M.Kes. 2004. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhammadiyah Press.

Posted by: FAJAR MAULANA | 29th Oct, 2010

PEMBESARAN IKAN LELE Clarias gariapinus

Laporan Praktikum                               Hari/Tanggal : Sabtu, 28 Februari 2009

m.k. Dasar-dasar Akuakultur                Asisten          : Natalia Puspasari

Friesca Radian Putri

Tyas Setioadji

Rona A N Ginting

Hendar Kadarusman

PEMBESARAN IKAN LELE

Clarias gariapinus

Disusun oleh :

Fajar Maulana

C14080081

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

  1. I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada saat sekarang ini, dimana kebutuhan protein harian setiap orang meningkat maka sarana pendukung penyedia panganan penyedia protein pun sangat dibutuhkan, dengan dicanangkannya swasembada daging pada tahun 2010 oleh pemerintah, dapat diartikan sebagai prospek usaha yang sangat menjanjikan bagi kita sebagai civitas akuakultur. Selain wajib berperan dalam program tersebut, partisipasi kita juga dapat menjadi suatu peluang bisnis yang bagusdalam penyedia sumber protein hewani.

Ikan lele Clarias batrachus merupakan salah satu ikan air tawar yang bernilai ekonomis, selain karena permintaan pasar yang tinggi dengan waktu pembesaran yang termasuk singkat, ikan lele juga merupakan ikan kegemaran masyarakat selain karena rasanya yang lezat, berdaging empuk dengan duri yang teratur dan dapat disajikan dalam berbagai olahan makanan. Ikan ini selain dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani juga dimanfaatkan sebagai ikan hias, pemberantas hama tanaman di sawah, dan juga dapat berguna sebagai obat-obatan seperti obat asma, datang bulan dll.

Potensi usaha agribisnis lele sangat terbuka lebar, dengan contoh di daerah Yogyakarta terdapat 640 kios panganan lele, dan untuk memenuhi kebutuhan lele di daerah DIY dalam semalam dibutuhkan lele senanyak 12-16 ton banyaknya. (Kusnadiono 2009). Terus meningkatnya konsumsi lele di Indonesia secara otomatis dapat menjadi pendorong peningkatan produksi lele nasional dan tercatat pada tahun 2008 total konsumsi lele hidup mencapai 108.200 ton. (Dirjen Perikanan Budidaya DKP 2008)

Praktikum ini dapat mendorong mahasiswa untik berlatih berwirausaha yautu membudidayakan ikan lele yang memiliki prospek yang sangat bagus dalam memanfaatkan peluang yang ada.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan  agar mahasiswa mampu menerapkan prinsip-prinsip akuakultur yaitu pembesaran ikan lele Clarias gariapinus.


  1. II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Biologi Ikan Lele

Ikan lele dumbo Clarias gariepinus merupakan jenis ikan yang termasuk dalam famili Claridae dan genus Clarias. Ikan lele dumbo ini merupakan ikan air tawar yang menyenangi air tenang. Spesies ini merupakan saudara dekat lele lokal Clarias batrachus yang selama ini dikenal, sehingga ciri-ciri marfologinya hampir sama. Ikan ini merupakan hasil perkawinan silang antara lele afrika dan lele Taiwan. (Khairuman dan Amri, 2002)

Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam Djatmika et al (1986) adalah:

Kingdom               : Animalia

Sub-kingdom        : Metazoa

Phyllum                 : Chordata

Sub-phyllum          : Vertebrata

Klas                       : Pisces

Sub-klas                : Teleostei

Ordo                      : Ostariophysi

Sub-ordo               : Siluroidea

Familia                  : Clariidae

Genus                    : Clarias

Ikan lele dumbo  Clarias gariepinus, atau dengan nama umum King cat fish. Ikan lele merupakan ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin, tidak bersisik, dan juga memiliki empat pasang sungut yang berfungsi sebagai alar peraba dan  indra pendeteksi makanan. Ikan dengan sirip mengeras atau biasa disebut patil sebagai senjata dan alat renang pada bagian sirip dada, dan memiliki tiga buah sitip tunggal pada punggung, belakang anus, serta ekor, dan memiliki dua sirip sepasang pada dada dan perut. (Khairuman dan Khairul Amri 2005).

Ikan lele tidak pernah ditemukan di perairan payau atau asin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu  aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele umumnya memijah pada musim penghujan.

Ikan lele dapat hidup pada kondisi sedikit air, dan juga kualitas air yang tidak terlalu baik dalam hal ini air yang tidak terlalu jernih pada suhu optimal 270 C, dengan rentang suhu antara 200 C hingga 300 C. Iken lele dapat hidup dalam kondisi ekstrim seperti kadar oksigen terlarut yang rendah hingga 3 ppm, dengan derajat keasaman 6,5 hingga 8. (Khairuman dan Khairul Amri 2005).

2.2       Kelangsungan Hidup

Kelangsungan hidup adalah persentase jumlah  ikan yang hidup dari jumlah total ikan yang dipelihara dalam suatu wadah atau tempat. Kelangsungan hidup ikan didukung oleh asupan makanan yang didapat atau diberikan dalam budidaya, pakan yang diberikan untuk tubuh berkisar lebih besar dibandingkan pakan untuk menyokong kehidupan, dengan kata lain pakan yang berlebih digunakan sebagai sumber pertumbuhan (Djajasewaka 1985). Tingkat kelangsungan hidup dipengaruhi pula oleh kualitas air, PH serta ada tidaknya predator maupun bakteri maupun penyakit yang dapat mengganggu kehidupannya.

Kelangsungan hidup ikan sangat mempengaruhi usaha budidaya ikan khususnya ikan lele sebagai ikan ekonomis dengan permintaan pasar yang tinggi, kelangsungan hidup mempengaruhi bobot dan jumlah ikan saat panen, dengan tingat kelangsungan hidup yang tinggi maka hasil produksi akan semakin besar, dan begitu juga sebaliknya(Arifin. 1991).

2.3       Pertumbuhan

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan ukuran panjang atau bobot seiring berjalannya waktu. Pertumbuhan bobot dan panjang sangat didukung oleh asupan nutrisi pakan, khususnya pakan yang berprotein tinggi sesuai dengan kebutuhan jenis ikan. Ikan akan tumbuh setelah asupan pakn yang diberikan telah melampaui kebutuhan kehidupannya(Effendi 1997).

Pertumbuhan dingaruhi oleh faktor internal seperti hormon, genetik, umur, sedangkan faktor eksternal meliputi suhu, faktor kimia dalam air, ph lingkungan, serta makanan yang disediakan oleh alam. Sehingga pertumbuhan setiap individu ikan sangatlah berbeda-beda(Soetomo 1987)

Pertumbuhan individu ikan sangatlah berpengaruh dalam produksi akuakultur, karena dalam produksi akuakultur diiginkan hasil panen yang seragam, selain karena faktor harga, juga berpengaruh terhadap lamanya waktu panen sehingga dapat menekan biaya produksi khususnya pakan.(Arifin. 1991).

2.4       Konversi Pakan

Konversi pakan adalah perbandingan antara pakan dengan biomasa yang dihasilkan, atau dengan kata lain jumlah kg pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertambahan bobot biomasa sebanyak 1 kg. Semakin besar nilai konversi pakan maka pakan yang dibutuhkan untuk memproduksi 1kg daging ikan kultur semakin besar pula(Effendi 2004).

  1. III. BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Pelaksanaan kegiatan praktikum pembenihan ini selama sebelas minggu terhitung tanggal 4 Oktober 2009 hingga 13 November 2009. Praktikum pembesaran ini dilakukan di dalam kolam percobaan milik Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

3.2       Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam  praktikum ikan lele ini  diantaranya adalah kolam sebagai media pembesaran berukuran 20m x 10m x 1m, peralatan sampling (jala, penggaris, ember, timbangan 5 kg, saringan), peralatan pemberian pakan (timbangan digital, timbangan 15 kg, ember pakan, gayung, plastik pembungkus), termometer, indikator pH. Sedangkan bahan yang digunakan seperti pupuk sebanyak 40 kg, kapur sebanyak 10 kg, buah mengkudu, pellet, benih ikan lele dumbo sebanyak 11.067 ekor.

3.3       Prosedur Kerja

3.3.1    Persiapan Wadah

Persiapan wadah ditujukan untuk mempersiapkan kondisi kolam untuk kegiatan pembesaran yang ditujukan agar kegiatan pembesatan dapat berjalan dengan baik, sehingga tingkat kelangsungan dan proses pertumbuhan  hidup ikan lele dapat mencapai tingkat yang paling maksimum.

Tahap persiapan kolam yang dilakukan dengan cara kolam dikeringkan, air dibuang agar bakteri dan penyakit yang tertiggal hasil siklus sebelumnya hilang, setelah itu pengangkatan lumpur-lumpur dasar kolam yang bertujuan agar mengurangi kadar nitrogen dan sulfur dalam sedimen,  setelah itu dilakukan masuk kedalam tahap penjemuran dengan cara kolam dijemur selama 3 hari agar kandungan gas-gas beracun dapat diuapkan oleh panas matahari, masuk ke tahap selanjutnya, kolam dikapur agar penyesuaian pH yang dibutuhkan ikan lele sesuai dengan kebutuhan biologisnya, lalu kolam diisi kembali hingga 2/3 bagiannya, setelah hampir penuh kolam dipupuk menggunakan pupuk kotoran ayam dengan dosis 0.25 kg/ meter2, lalu kolam didiamkan selama satu minggu guna menumbuhkan pakan alami.

3.3.2    Penebaran Benih

Benih ditebar sebanyak 11.067 ekor, yang dilakukan pada sore hari, agar benih tidak stres dan terpengaruh oleh perbedaan suhu antara kolam penjual dan kolam pemesaran. Setelah terlebih dahulu melakukan sampling terhadap benih untuk mengetahui jumlah benih pe satuan kilogram, lalu benih ditimbang untuk mencapai banyak 10.000 ekor, dan kolam BDP mendapatkan 1.067 ekor benih tambahan. Enih yang dipindahkan seharusnya mendapatkan proses aklimatisasi, tetapi dikarenakan berbagai hal maka benih tidak diaklimatisasikan, dan langsung dimasukkan kedalam kolam pembesaran.

3.3.3    Sampling

Sampling dilakukan setiap minggu guna mengetahui bobot biomassa yang digunakan untuk menentukan jumlah pakan yang akan diberikan setiap harinya. Umumnya sampling dilakukan pada hari kamis, atau pada hari penggantinya. Sampling yang dilakukan yaitu dengan diangkatnya 30 ekor contoh ikan untuk diukur pertambahan bobot dan panjang ikan. Pengambilan ikan dilakukan dengan cara dijala, minimal ada tiga orang praktikkan yang terjun ke dalam kolam, lalu jala ditarik di tempat-tempat tertentu agar ikan tertangkap dan akan dijadikan sebagai contoh. Setelah didapat ikan contoh, ikan lalu ditimbang dan diukur, dan setelah data didapat maka ikan yang telah ditangkap harus segera dikembalikan kedalam kolam guna menghindari kestresan pada ikan.

3.3.4    Pemberian Pakan

Pamberian pakan dlakukan tiga kali perhari, yaitu pada pagi, siang dan malam hari, dikarenakan ikan lele bersidat nokturnal atau aktif  mencari makan di malam hari. Proporsi jumlah pakan yang diberikan adalah 30% pada pagi hari dan 35% pada siang dan malam hari sesuai dengan perkiraan bobot biomassa. Pemberian pakan dilakukan dengan cara ditebar sambil berjanlan mengitari kolam, guna mencapai ikan-ikan yang berada di pinggir atau di tempat-tempat tertentu ikan bersembunyi.

3.4       Analisis Data

Agar kegiatan pembesaran dapat berjalan dengan baik dan juga untuk mendapatkan hasil yang maksimal meka kita perlu mengetahui aspek-aspek kehidupan ikan, seperti :

3.4.1    Tingkat Kelangsungan Hidup (SR)

SR = (Nt / No) x 100%

Tingkat kelangsungan hidup(survival rate) adalah perbandingan jumlah ikan yang hidup pada akhir dan awal penelitian. Dapat dihitung dengan cara membagi jumlah ikan akhir dengan jumlah ikan awal dikalikan 100 %. Atau dengan rumus:

dimana :

SR       : persentase tingkat kelangsungan hidup

No       : Jumlah individu pertama kali ditebar atau hari ke-0

Nt        : Jumlah individu setelah pemeliharaan

3.4.2    Konversi Pakan

FCR = Pa/(wt-wo+wm)

Nilai konversi pakan adalah suatu ukuran yang menyatakan rasio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertambahan 1 kg daging ikan kultur. Persamaan yang digunakan:

Dimana :

FCR    = konversi pakan

Pa        = pakan total (kg)

Wt       = bobot total (kg)

Wo      = bobot awal penebaran benih (kg)

Wm     = bobot mati (kg)

3.4.3    Laju Pertumbuhan Harian (Spesific Growth rate)

Dengan rumus :

Keterangan :

SGR    = Pertumbuhan spesifik (%)

Wt       = Berat pada akhir penelitian (g)

Wo       = Berat pada awal penelitian (g)

T          = Waktu yang dibutuhkan dari berat awal hingga mencapai berat                akhir (hari)

3.4.4    Pertumbuhan Mutlak (Growth Rate)

Pertumbuhan total ialah perbandingan kenaikan biomassa terhadap waktu yang diperlukan, atau dengan rumus :

Keterangan:

GR      = pertumbuhan mutlak (gr/hari)

Wt       = berat rata-rata pada waktu ke t (gr)

Wo      = berat awal saat penebaran benih (gr)

t           = waktu pemeliharaan (hari)

  1. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Hasil

4.1.1    Tingkat Kelangsungan Hidup

Gambar 1. Grafik tingkat kelangsungan hidup ikan lele

Berdasarkan (gambar 1) Grafik tingkat kelangsungan hidup ikan lele, didapat bahwa tingkat kelangsungan hidup tertinggi diapat oleh kelas BDP yaitu 88.70%, dan yang paling rendah didapat oleh kelas THP dengan 70.60%.

4.1.2    Laju Pertumbuhan Harian

Gambar 2. Grafik laju pertumbuhan spesifik

Berdasarkan (gambar 2) Grafik laju pertumbuhan spesifik didapat bahwa laju pertumbuhan spesifik stabil hingga minggu ke-5 penebaran dan mulai menurun pada minggu ke-6.

4.1.3    Pertumbuhan Mutlak

Gambar 3. Grafik laju pertumbuhan mutlak

Berdasarkan (gambar 3) laju pertumbuhan mutlak, didapat bahwa bobot biomassa semakin bertambah seiring bertambahnya hari pemeliharaan. Dan grafik menunjukkan ptrtambahan pertumbukan yang positif.

4.1.4    Konversi Pakan

Gambar 4. Grafik Konversi Pakan

Berdasarkan (gambar 4) grafik konversi pakan didapat bahwa nilai konversi pakan terbaik didapat oleh kelas MSP dengan nilai 1.03, dan BDP di peringkat ke 2. Nilai konversi pakan yang tidak terlalu bagus didapat oleh kelas THP.

4.1.5    Hasil Panen

Gambar 5. Grafik Hasil Panen

Berdasarkan (gambar 5) grafik hasil panen didapat bahwa jumlah biomassa panen terbesar didapat oleh kelas MSP, dan biomassa terrendah didapat oleh Kelas BDP.

4.1.6    Analisis Usaha

Gambar 6. Grafik Analisis Usaha

Berdasarkan (gambar 6) grafik analisis usaha didapat bahwa keuntungan terbesar didapat oleh kelas BDP, dan keuntungan terkecil didapat oleh kelas THP denga nilai keuntungan yang minus (rugi).

4.1.7    Analisa Kualitas Air

Berdasarkan hasil yang didapat bahwa keadaan kolam budidaya mencukupi kebutuhan ikan untuk tumbuh dan berkembang, sehingga klam praktikum ini mendukung untuk dilangsungkannya budidaya ikan lele.

4.2       Pembahasan

Tingkat kelangsungan hidup(survival rate) adalah perbandingan jumlah ikan yang hidup pada akhir dan awal siklus pemeliharaan. Dapat dihitung dengan cara membagi jumlah ikan akhir dengan jumlah ikan awal dikalikan 100 persen. Bardasarkan hasil yang didapat nilai kelangsungan hidup berkisar antara 79,6%-88,7%, nilai tersebut sudah termasuk nilai yang bagus untuk usaha budidaya lele. Persentase tingkat kelangsungan hidup larva kelas BDP mendapatkan nilai yang terbesar yaitu 88.70%. Nilai kelangsungan hidup yang kita dapat bukanlah hasil yang sebenarnya, karena perhitungannya dilakukan setelah semua kolam sudah stabil akibat faktor kebocoran dan serangan hama penyakit.

Laju pertumbuhan spesifik ialah nilai yang menunjukkan pertumbuhan rata-rata biomassa dengan ukuran persen yang dipengaruhi oleh aspek waktu. Hasil yang didapat menunjukkan gambaran yang positif, dengan nilai rata-rata yang tetap menuju kepada peningkatan nilai SGR, yang berarti pertumbuhan dan pertambahan ikan lele berjalan baik. Laju prtumbuhan ikan bergantung pada dua faktor yaitu faktor internal yang berupa genetika ikan dan juga keadaan fisiologi ikan, sedangkan faktor yang kedua ialah faktor eksternal yang meliputi jenis pakan, kondisi lingkungan, dan kandungan kimia perairan yang terdapat pada sumber dan air di dalam kolam(Khairuman dan Khairul Amri 2005).

Pertumbuhan mutlak ialah nilai yang menunjukkan pertambaha biomassa rata-rata ikan dengan menunjuk kepada perbedaan bobot rata-rata akhir dikurangi dengan awal dan dibagi dengan waktu pemiharaan, dengan satuan nilai gram per-ekor –perhari(Soetomo 1987).

Dari hasil yang didapat terlihat bahwa nilai perumbuhan mutlak yang didapat oleh kelas BDP meningkat setiap minggunya. Hal yang sama juga didapat oleh kelas yang lainnya, karena faktor-faktor yan diberikan sama seperti bibit, pakan dan kolam yang seragam, perbedaan hanya terdapat pada subjek yang merawat dan memelihara ikan lele.

Konversi pakan merupakan aspek yang penting dalam budidaya, dengan semakin kecilnya nilai konversi pakan maka kebutuhan akan pakan dapat ditekan yang berarti biaya produksi akan semakin kecil(Arifin. 1991). Melihat kepada data, didapat nilai konversi pakan kelas BDP menempati urutan petama yaitu dengan nilai 1,05, yang berarti untuk menghasilkan bobot daging sebesar 1 Kg dibutuhkan pakan sebanyak 1,05 Kg. Nilai konversi pakan ini sangatlah bagus jika debandingkan dengan rata-rata budidaya lele lainnya yag berkisar antara 1,6 hingga 1,8. Dibandingkan dengan kelas-kelas  yang lain nilai yang didapat cukup baik, kejanggalan hanya terjadi pada kelas THP yang memiliki nilai FCR hingga 2,27 dengan jenis pakan yang diberikan sama sama. Faktor yang berperan dalam bagus atau tidaknya nilai konversi pakan ialah berupa jenis dan kualitas pakan yang diberikan, dan juga keberhasilan penaksiran jumlah biomassa yang dipelihara.

Hasil panen yang didapat oleh kelas-kelas yang melakukan praktikum idak terlalu buruk, setiap kelas mendapatka jumlah ikan tipe daging lebih banyak dibandingkan tipe big size maupin sortir. Jumlah yang diperoleh kelas BDP adalah yang terkecil dibandingkan dengan kelas-kelas yang lain, hal ini dipengaruhi oleh kematian masal pada minggu pertama pemeliharaan dikarenakan belum stabilnya kondisi kolam dan faktor benih yang tidak dalam kondisi baik saat penebaran. Hal lain yang mempengaruhi ialah cara pemberian pakan, yaitu dengan one spot, atau mengelilingi kolam agar pemberian pakan menjangkau semua ikan yang ada di dalam kolam.

Analisis usaha budidaya dalam praktiku ini menunjukkan kriteria yang tidak terlalu bagus, karena dari 5 kelas yang melakukan praktikum, hanya 1 kelas yang mendapatkan provit atau keuntungan dan empat kelas lainnya mengalami devisit atau kerugian. Keuntungan terbesar diterima oleh kelas BDP dengan besar keuntungan hanya mencapai Rp 130.767,00.

Merujuk kepada grafik SR yang menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang tidak terlalu bagus, terutama terlihat pada kelas BDP dengan kematian mencapai 49% pada munggu pertama penebaran. Hal ini diakibatkan oleh faktor lingkungan dan keadaan yang berlangsung saat penebaran dan awal pemeliharaan(Khairuman dan Khairul Amri 2005). Permasalahan yang timbul berupa keadaan hujan pada saat penebaran, dan kelas BDP mendapatkan ikan lele sisa atau benih terakhir yang ada di dalam bak-bak mobil pengangkut benih.

kolam yang bocor juga berpengaruh terhadap kesehatan ikan lele, karena ikan lele memerlukan air yang cukup stagnan dan tidak banyak terjadi pergantian air, hal lain yang mengakibatkan kematian masal ialah kondisi kimia perairan yang buruk, dengan pH awal yang berkidar antara 5-6 mengakibatkan ikan terkena berbagai penyakit berupa bintik-bibtik putih pada bagian mulut hingga ke perut. Penanggulangan penyakit ini kami cegah dengan menambahkan buah mengkudu kedalam pakan yang diberikan, dosidnya hanya berupa takaran bebas yaitu 2 buah mengkudu untuk setiap pemberian pakan, mengkudu berfungsi sebagai biofarmaka atau dalam arti singkat obat alami.

Melihat nilai GR yang didapat dapat dari data didapat bahwa nilai GR mencapai pncaknya pada minggu ke-5 dan mulai menurun pada minggu ke-6. Dengan kata lain kita dapat mengambil reverensi bahwa masa pembesaran lele berkisar antara 5-6 minggu. Sesuai dengan reverensi yang didapat bahwa pembesaran ikan lele dengan sistem intensif bialah selama 50 hari atau sekitar 5 minggu.

Pemenenan hendaknya dilakukan sesuai dengan keadaan ikan yang diminta pasar, umumnya permintaan pasar pada size 8 (125 g). Maka dari itu kegiatan sampling sangat berperan penting dalam menantukan bobot rata-rata ikan agar tidak melewati atau kurang dari ukuran permintaan pasar. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah panen yang sesuai dengan permintaan pasar tercapai terapi mesih belum maksimal dikarenakan sampling dilakukan dengan kurang benar sehingga penaksiran bobot biomassa tidak terlalu tepat, dan juga faktor pemberian pakan yang tidak tepat sehingga perebutan makanan terjadi yang berdampak pada ketidakseragaman ikan yang dipanen.

Berkaitan dengan kegiatan pemanenan, sangatlah bergantung dengan nilai GR dan bobot panen yang didapat, faktor lain yang mempengaruhi keputusan waktu panen ialah tingkat kesehatan ikan, yaitu bila terjadi bloming alga yang beracun maupun virus atau bakteri yang menyerang untuk menghindati kematian secara masal.

Kegiatan panen sangat berpengaruh terhadap keuntungan yang akan didapat. Terlihat dari table analisis usaha sidapat bahwa hanya terdapat 2 kelas yang memperoleh keuntungan, dan ketiga kelas lainnya memperoleh kerugian. Hal ini dikarenakan kesalahan pada pengambilan keputusan untuk panen, seharusnya panen dilakukan pada minggu ke-6 karena lilai SGR yang cendrung menurun, hal ini berdampak pada pemberian pakan yang harus tetap diberikan selama pemeliharaan, dengan tepatnya pwnganbilan waktu panen maka pakan akan efisien seiing berdasarkan pertumbuhan ikan yang terlihat dari nilai FCR yang diperoleh.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan

Pada praktikum pembesaran ikan lele ini, para praktikan telah berhasil memproduksi biomassa ikan dengan sistem intensif. Dengan didapatkannya biomassa ikan lele dan juga memahami faktor-faktor penting pendukung maupun penghambat pada kegiatan bididaya air tawar. Sehingga praktikan dapat melakukan kegiatan budidaya sebagai salah satu kegiatan perekonomian.

5.2  Saran

Ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung sangatlah dibutuhkan praktikan dalam pembelajaran di lapangan yang sangat berbeda dengan teori. Ketersediaan alat dan tempat yang memadai, dan juga terbukanya ruangan pakan dan alat. Hal-hal lain seperti tingkah laku ikan yang harus dipahami oleh praktikan sebagai aquakulturis.


DAFTAR PUSTAKA

Saanin H. 1986. Taksonomi dan kunci identifkasi ikan 1 dan 2. Bogor : Binacipta

Effendi I. 2004. Pengantar Akuakultur. Jakarta : Penebar Swadaya.

Djajasewakah. 1985. Makanan Ikan. PT Penebar Swadaya. Jakarta.

Khairuman dan K. Amri. 2002. Budidaya Lele Dumbo secara Intensif. Agro Media Pustaka. Jakarta. 84 hal.

Departemen Kelautan dan Perikanan. Dirjen Perikanan Budidaya 2008. www.dkp.go.id. Diakses 07 Januari 2010

Arifin, M.Z. 1991. Budidaya lele. Dohara prize. Semarang.

Soetomo, M.H.A. 1987. Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo. Sinar Baru. Bandung.


LAMPIRAN

Contoh perhitungan:

  • Survival Rate:

=   8823

10000

= 88,23%

  • Spesific Growth Rate:

  • Efisiensi Pemberian Pakan

Dokumentasi

Gambar 1. Pemupukan                          Gambar 2. Penimbangan

Gambar 3. Pengukuran                          Gambar 4. Sampling

Gambar 5. Sampling                                Gambar 6. Sampling

Posted by: FAJAR MAULANA | 29th Oct, 2010

PEMBENIHAN IKAN NILA Oreoshromis niloticus

Laporan Praktikum                                         Hari/Tanggal   : Sabtu, 28 Februari 2009

m.k. Dasar-dasar Akuakultur                          Asisten            : Natalia Puspasari

Friesca Radian Putri

Tyas Setioadji

Rona A N Ginting

Hendar Kadarusman

PEMBENIHAN IKAN NILA

Oreoshromis niloticus

Disusun oleh :

Fajar Maulana

C14080081

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

  1. I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada waktu sekarang, dimana kebutuhan protein harian setiap orang meningkat maka sarana penyedia makhluk hidup penyedia protein pun sangat dibutuhkan. Dengan dicanangkannya swasembada daging pada tahun 2010 oleh pemerintah, maka kita sebagai civitas akuakultur wajib berperan dalam program tersebut, partisipasi kita ialah mengembangbiakan dan pengelolaan sumbeer daya protein tersebut, dalam hal ini ikan sebagai sumber protein. Praktikum ini dapat membantu mahasiswa dalam berkontribusi terhadap upaya peningkatan hasil perikanan Indonesia, dan juga sebagai sarana pembelajaran agar dapat diterapkan dikemudian hari.

Ikan nila Oreochromis niloticus merupakan jenis ikan yang berasal dari Sungai Nil di belahan bumi Afrika. Ikan ini merupakan salah satu ikan air tawar yang digemari di Indonesia. Ikan nila merupakan ikan yang potensial untuk dibudidayakan dikarenakan pertumbuhannya cepat dan kemudahan dalam hal pemeliharaannya. Ikan nila banyak digemari masyarakat karena rasa dagingnya yang enak (Djarijah, 1995). Bukan hanya itu, ikan nila juga terkenal sebagai ikan yang tahan terhadap perubahan lingkungan, dapat mentolerir suhu air yang tinggi, kadar amoniak yang tinggi serta konsentrasi oksigen yang rendah. Ikan nila termasuk ikan yang dapat memijah sepanjang tahun. Maka untuk menunjang program tersebut penyediaan benih ikan nila untuk kegiatan pembesaran sangatlah dibutuhkan

1.2 Tujuan

Pada percobaan pembenihan ikan ini mahasiswa dituntut menerapkan prinsip-prinsip akuakultur yaitu mahasiswa mampu memproduksi benih ikan nila O. niloticus.


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Biologi Ikan Nila

Nila gesit (Genetically Supermale Indonesia Tilapoa) merupakan ikan nila hasil perbaikan genetika, kerjasama antara Badan perngkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Institut Pertanian Bogor dan Balai Besar Pengembangan Budidaya  Air Tawar (BBPBAT) sukabumi. Teknik budidaya nila Gesit tidak jauh berbeda dengan nila GIFT dan nila lainnya.

Ikan nila memiliki tingkat taksonomi sebagai berikut(Saanin H.1986) :

Filum               : Chordata
Subfilum         : Vetebrata
Kelas               : Pisces
Subkelas          : Aconthoterigii
Suku                : Cichlidae
Marga              : Oreochromis
Spesies            : Oreochromis niloticus

Ikan nila banyak ditemukan di perairan dalam dan tenang seperti danau, rawa, sawah,  dan waduk, ikan ini dapat hidup pada  0 – 29 permil, pada suhu 14 – 38°C dan dalam rentang pH 5-11. Di daerah tropis, ikan nila dapat hidup dan tumbuh dengan optimum dengan ketinggian daratan hingga 500 meter diatas permukaan laut(Suyanto 1994).

2.2 Pertumbuhan

Dalam aspek pertumbuhan, ikan nila jantan terbukti dapat tumbuh 40% lebih cepat dbandigkan dengan pertumbuhan ikan nila betina, pertumbuhan ikan nila setelah mencapai bobot 200 gram umumnya berangsur-angsur menurun, hal ini terjadi dikarenakan telah berakhirnya masa pertumbuhan ikan nila, sehingga pemanenan ikan nila dilakukan pada saat ikan hampir berbobot 200 gram atau dengan kata lain mencapai size 5.

Dengan temuan hasil pengamatan bahwa ikan nila jantan lebih sepat tumbuh, maka dilakukanlah proses jantanisasi  atau proses pembuatan kelamin ikan menjadi jantan, yang bertujuan untuk memaksimalkan produksi, dalam hal ini pengoptimuman biomasa pada produksi ikan.

Ikan nila merupakan ikan yang dapat hidup rentan dalam kondisi perubahan suhu dan juga kondisi air yang tidak terlalu bagus. Secara alami ikan ini dapat hidup dan berkembang biak dngan baik, bahkan ikan nila dapat menjadi salah satu hama di suatu perairan seperti danau di Situbondo Jawa Timur.

Ikan nila dapat memijah sepanjang tahun pada daerah tropis, umumnya frekuensi pemijahan tertinggi terjadi pada musim penghujan. Ikan nila mencapai stadia dewasa pada umur 4-5 bulan dengan bobot mencapai 250 gram. Usia produktif ikan nila berkisar antara 1,5-2 tahun dengan bobot rata-rata 500 gram/ekor. Ikan niladengan bobot 800 gram dapat menghasilkan anakan sebanyak 1200-1500 ekor setiap kali memijah. Atau dengan kata lain nilai fekunditas ikan nila berkisar 1500 ekor. (Amri & Kahairuman, 2003).

Nila termasuk ikan Pemakan segala (Omnivora) mengarah karnifora, ikan ini sangat menyenangi pakan alami berupa Rotifera, Daphnia Sp, Mobia Sp, Benthos dan Fitoplankton. Dengan pembiasaan dan latihan ikan nila dapat diberi pakan tambahan berupa pellet, dedak halus, tepung ikan dan sejenisnya.

Dosis pemberian pakan yaitu 3% dari bobot biomas untuk lima hari pertama pemijahan dan 2-2,5% untuk lima hari berikutnya sampai panen larva. Penurunan dosis pemberian pakan ini disesuaikan dengan kondisi bahwa sebagian induk betina sedang mengerami telur dan larva. Pakan yang diberikan haruslah memiliki kandungan protein yang cukup yaitu sebesar( 28-30%)

Debit air dalam pendederan satu dan kedua tidak terlalu besar, yakni sekedar mengganti air yang menguap dan rembes. Namun untuk pendederan ketiga debit air juga dimaksudkan untuk meningkatkan daya dukung media terutama ketersedian oksigen yang berguna dan dapat meningkatkan nafsu makan serta laju pertumbuhan.

Untuk menjaga tingkat kalangsungan hidup indukan dan larva, kita upayakan untuk memberikan asupan oksigen berupa pemasangan aerator dan juga menyofon kotoran atau endapan sisa pakan untuk meminimalisir kandungan kimia air, dan juga kita menjaga agar air kolam mengandung cukup pakan alami berupa fitoplankton.

Ikan nila memiliki nilai fekunditas yang cukup tinggi yaitu berkisar antara 2000-2500 ekor larva per 1 kg indukan. Dengan nilai fekunditas yang tinggi, maka dengan indukan seberat 300 gr, maka kita dapat menghasilkan sebanyak 800 benih sekali pembenihan.


  1. III. BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Pelaksanaan kegiatan praktikum pembenihan ini berjalan terhitung tanggal 27 Oktober 2009 hingga 4 Desember 2009 sesuai jadwal yang telah ditentukan. Praktikum pembenihan ini dilakukan di dalam bak percobaan milik Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

3.2  Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam  praktikum ikan nila diantaranya adalah bak kolam pemijahan ukuran 3m x 2m x 0.75m, aquarium sebagai tempat pendederan larva, saringan larva, thermometer, PH meter, ember-ember, baskom, timbangan digital, sendok, sikat dan macam-macam alat pembersih, peralatan instalasi udara (aerasi), air bersih, pakan buatan berupa pelet. Bahan yang digunakan adalah 12 ekor ikan nila gesit yang terdiri dari 3 ekor induk betina dan 9 ekor induk jantan.

3.3  Prosedur Kerja

3.3.1    Persiapan Wadah

Tahapan persiapan wadah meliputi Pengeringan bak yaitu kolam dikeringkan dengan cara dibukanya pipa paralon inlet sehingga semua air keluar, setelah air dalam kolam keluar bak dibersihan dengan menggunakan ala-alat pembersih seperti sikat, sabun dan sebagainya. Setelah lumut dibersihkan langkah selanjutnya ialah pengeringan kolam dengan cara dijemur, dan terakhir bak diisi dengan air bersih tiga-per empat bagiannya.

3.3.2 Pemilihan Induk

Pemilihan indukan menjadi dasar yang penting bagi keberhasilan pemijahan dan hasil larva ikan, sehingga ini menjadi salah satu faktor keberhasilan pemijahan. Setelah didapatkannya indukan yang sesuai lalu dilakukan penebaran induk sesuai rasionya.

Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul ialah indukan yang mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kualitas yang tinggi, pertumbuhannya yang sangat cepat, sangat responsif terhadap pakan buatan yang diberikan, resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit dan juga dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.

Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu antara 120-180 gram lebih per ekor dan berumur sekitar 4-5 bulan. Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut :

  1. Betina

Ikan betina memiliki 3 buah lubang pada urogenetial yaitu dubur, lubang pengeluaran telur dan lubang urine, pada ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat dan tidak terlihat jelas, warna perut dan dagu yang cendrung berwarna putih, jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan sperma yang berwarna putih.

  1. Jantan

Ikan jantan memiliki dua buah lubang pada urogenitalnya berupa anus dan lubang sperma yang merangkap lubang urine, ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas, warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman, warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan, jika perut distriping mengeluarkan cairan  berwarna putih berupa sperma.

3.3.3    Penebaran (Sampling induk)

Sampling dilakukan dengan tujuan mengetahui bobot rata-rata indukan untuk mengetahui jumlah pakan yang harus diberikan setiap hari berdasarkan SR yang telah ditentukan sebelumnya. Sampling dilakukan dengan cara diambilnya beberapa ekor bibit untuk masuk dalam proses penimbangan, setelah didapat bobot indukan selanjutnya bobot yang telah didapat digunakan sebagai bobot rata-rata indukan.

3.3.4 Pemeliharaan Induk

Induk dipelihara dan diberi pakan setiap hari, pakan yang diberikan berupa pakan buatan (pelet) dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak dua kali sehari pada pagi hari pukul 07.00 WIB dan sore hari pukul 17.00 WIB, sebanyak 3% dari total bobot tubuh ikan. Dari hasil perhitungan didapat bahwa pemberian pakan sebanyak 75 gr perhari.

3.3.5    Pemanenan Larva

Pemanenan dilakukan setelah pemijahan berlangsung 10-15 hari, larva diamati setiap hari dan harus segera dipanen jika sudah terlihat larva yang muncul. Pemanenan dilakukan dengan cara larva nila isaring dengan menggunakan serokan lalu larva yang didapat depindahkan ke dalam aquarium yang terlebih dahulu silakukan aklimatisasi pada larva. Larva terlebih dahulu di grading dan melalui sortasi untuk memisahkan ukuran nila sesuai dengan kelompoknya.

3.3.6    Penanganan Kualitas Air

Kualitas air haruslah diperhatikan karena sangat berpengaruh pada larva ikan yang menjadi tergertan produksi dalam usaha pembibitan ikan. Kualitas air dikontrol sengan melihat kadar oksigen terlarut, ph dan juga suhu pada pagi dan sore hari. Debit air yang hilang karena proses evaporasi haruslah digantikan kembali, sehingga volume dan padat tebar tetap stabil untuk upaya pembenihan.

3.4  Analisis Data

Parameter-parameter yang diamati dalam pembenihan ikan nila meliputi :

3.4.1    Tingkat Kelangsungan Hidup (SR)

Tingkat kelangsungan hidup(survival rate) adalah perbandingan jumlah ikan yang hidup pada akhir dan awal penelitian. Dapat dihitung dengan cara membagi jumlah ikan akhir dengan jumlah ikan awal dikalikan 100 persen. Atau dengan rumus :

SR = (Nt / No) x 100%

dimana :

SR       : Survival Rate

No       : Jumlah individu larva yang di panen

Nt        : Jumlah individu larva hasil perhitungan akhir

Efisiensi pemberian Pakan(EPP)

Efisiensi pakan adalah suatu parameter khususnya dalam budidaya, terutama untuk menunjukkan kebutuhan pakan untuk menghasilkan bobot daging sebesar 1 kg. Efisiensi dapat dihitung dengan rumus :

EPP = Pa/(Wi-Wo+Wm)

Dimana :

EPP     : Efisiensi pemberina pakan

Pa        : Jumlah pakan

Wi       : Bobot rata-rata akhir

Wo      : Bobot rata-rata awal

Wm     : Bobot mati

3.4.2    FR Koreksi

Jumlah pakan yang digunakan dalam praktikum dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Karena kondisi sebenarnya sesuai dengan kebutuhan ikan maka perlu dilakukan koreksi FR dengan melihat pakan aktualnya, yaitu :

Maka koreksi Feeding Rate-nya menggunakan rumus :


  1. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil

Gambar 1. Grafik tingkat kelangsungan hidup larva ikan nila

Interpletasi : Berdasarkan (gambar 1) Grafik tingkat kelangsungan hidup ikan nila, didapat bahwa tingkat kelangsungan hidup tertinggi diapat oleh kelas PSP yaitu 99.53%, dan yang paling rendah didapat oleh kelas BDP dengan 73,79%.

Gambar 2. Grafik produksi larva

Interpletasi : Berdasarkan (gambar 2) Grafik produksi larva ikan nila didapat bahwa produksi larva terbanyak didapat oleh kelas THP, dan produksi larva ter-sedikit yaitu pada kelas PSP.

Interpletasi : Dari perhitungan didapat bahwa pakan aktual sebesar 1.32%. dengan asumsi penurunan nafsu makan ikan karena masa pengeraman.

4.2  Pembahasan

Tingkat kelangsungan hidup(survival rate) adalah perbandingan jumlah ikan yang hidup pada akhir dan awal penelitian. Dapat dihitung dengan cara membagi jumlah ikan akhir dengan jumlah ikan awal dikalikan 100 persen. Persentase tingkat kelangsungan hidup larva kelas BDP mendapatkan nilai yang terkecil yaitu 73.79%.

Tingkat kelangsungan hidup sangatlah penting dalam usaha produksi pembenihan akuakultur, selain bertujuan untuk memperbanyak jumlah ikan yang berorientasi mendapatkan keuntungan dari jumlah larva yang dihasilkan. Tingkat kelangsungan hidup dapat dikategorikan menjadi  tolak ukur keberhasilan suatu sistem budidaya, dengan besarnya nilai tingkat kelangsungan hidup larva, maha kitaa secara langsung akan  mendapatkan  jumlah larva yang maksimal dalam pembenihan tang berartimeksimalnya keuntungan hasil penjualan dari suatu pembenihan.

Pemeliharaan larva merupakan kegiatan yang paling menentukan keberhasilan suatu pembenihan ikan. Hal ini disebabkan sifat larva yang merupakan stadia paling kritis dalam siklus hidup ikan, sehingga pemeliharaan larva merupakan kegiatan yang paling sulit(Effendi, 2004).

Ikan nila yang kita benihkan secara alami memiliki sifat mengerami anaknya di mulut, yang bertujuan untuk melindungi anaknya dari predator. Seharusnya nilai tingkat kelangsungan hidup ikan nila tinggi, karena larva mendapat perlindungan dari induknya, faktor-faktor yang menyebabkan turunnya tingkat kelangsungan hidup ialah tubuh larva yang kecil juga bukaan mulutnya yang kecil sehingga pemberian pakan larva dan pengelolaan lingkungan relatif sulit, lalu larva sangat tergantung terhadap pakan alami yang tersedia di alam, belu ada pakan buatan yang bisa menandingi pakan alami, padahal kultur pakan alami juga memiliki tingkat kesulitan yang tinggi(Effendi, 2004).

Kematian pada larva yang kita benihkan umumnya terjadi karena kurangnya persiapan akuarium sebagai media penyimpanan larva, larva masih dalam ukuran yan kecil saat dipanen sehingga tidak mendapatkan perlindungan dan asuhan dari induknya, kendala teknis yang terjadi seperti kematian listrik yang mengakibatkan pasokan oksigen untuk aerasi terganggu, pakan yang tidak cocok dengan larva karena bukaan mulut yang terlalu kecil dan juga kelalaian dalam hal pemberian pakan, pemindahan, dan aklimatisasi pada saat pemindahan larva.

Fiding rate koreksi merpakan nilai pakan yang sebenarnya habis dalam keadaan sebenarnya, atau dalam kata lain ialah jumlah pakan yang dibutuhkan ikan dalam kehidupannya yang dipengaruhi oleh bobot biomassa dan stadia ikan pada saat tertentu,  FR koreksi seharusnya diklakukan pada saat pembenihan sedang berlangsung, sehingga kita dapat langsung mengetahui jumlah pakan yang ikan butuhkan.

Pada pengamatan yang kami lakukan, umumnya ikan kurang nafsu makan dikarenakan ikan sedang dalam masa mengerami anaknya di dalam mulut, sehingga terjadi penurunan  nafsu makan, dan hanya ikan jantan saja yang mengkonsumsi pakan yang diberikan. Hal ini sesuai dengan tinjauan pustaka yang menyatakan penurunan tingkat pemberian pakan karena ikan sedang dalam masa mengerami, sehingga nafsu makannya menurun.


  1. V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan

Pada praktikum pembenihan ikan nila ini, para praktikan telah berhasil memproduksi benih ikan nila secara alami. Dengan didapatkannya benih ikan setelah melakukan proses penebaran induk pada bak  percobaan prektek lapang, dan melihat hasil yang telah didapat, sekaligus mengetahui bahwa BDP mendapatkan urutan ke-3 dalam penghasil benih nila terbanyak, serta peringkat terakhir dalam persentase kelangsungan hidup larva setelah  panen.

5.2  Saran

Ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung sangatlah dibutuhkan praktikan dalam pembelajaran di lapangan yang sangat berbeda dengan teori. Ketersediaan alat dan tempat yang memadai, dan juga terbukanya ruangan pakan dan alat.


DAFTAR PUSTAKA

Sucipto, A. 2002. Budidaya ikan nila (Oreochromis sp.). Makalah disampaikan pada Workshop Teknologi dan Manajemen Akuakultur, Himpunan Mahasiswa Akuakultur IPB, di Bogor tanggal 20, 21 dan 28 April 2002. Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. 9 Hal

Yudi Prabowo, Abror. Budidaya Nila. Makalah ditulis pada blog Abror Yudi Prabowo, pada 28 Oktober 2007

Gusrina. Budidaya Ikan. Slide pembrlajaran SMK-MAK kelas 10.pdf

http://www.agrobost.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=71:budidaya-pembesaran-ikan-lele&catid=30:aplikasitambak&Itemid=161

Saanin H. 1986. Taksonomi dan kunci identifkasi ikan 1 dan 2. Bogor : Binacipta

Effendi I. 2004. Pengantar Akuakultur. Jakarta : Penebar Swadaya


LAMPIRAN

Tabel 1. Data rekap kualitas air

Hari/Tanggal Suhu (0C) pH
Pagi Sore
Senin-Minggu

(12 Oktober-18 Oktober 2009)

28-30 31-33 5-8
Senin-Minggu

(19 Oktober-8 November 2009)

27-29 29-32 6,5-7
Senin-Minggu

(9 November-15 November 2009)

26-29 29-32 6,5
Senin-Minggu

(16 November-22 November 2009)

27,5-29 29-33 6
Senin-Minggu

(23 November-25 Oktober 2009)

27,5-30 30-35 6-7
Senin-Minggu

(26 Oktober-1 November 2009)

29 30 6
Senin-Minggu

(2 November-29 November 2009)

29 30 7
Senin-Selasa

(30 November-2 Desember 2009)

29 30 7

Tabel 2. Data rekap pemberian pakan

Hari/Tanggal Jumlah pakan (gr)
Pagi Sore
Senin-Minggu

(12 Oktober-18 Oktober 2009)

26,13 27,50
Senin-Minggu

(19 Oktober-8 November 2009)

26,67 28,33
Senin-Minggu

(9 November-15 November 2009)

25,71 23,57
Senin-Minggu

(16 November-22 November 2009)

20,71 22
Senin-Minggu

(23 November-25 Oktober 2009)

22,5 25,36
Senin-Minggu

(26 Oktober-1 November 2009)

13,86 15,00
Senin-Minggu

(2 November-29 November 2009)

17 15,83
Senin-Selasa

(30 November-2 Desember 2009)

25 25

Perhitungan  pemberian pakan perhari :

= FR x( indukan x bobot  rata-rata)

= 2%x(12 ekor x 230 gr)\

= 55.2 gr

Pemberian pakan 2 kali sehari pagi dan sore :

Dokumentasi

Categories